Dalang Penipuan Harta Karun Soekarno Diringkus

  • Berita
  • 0
  • 09 Okt 2004 14:51

091004bTipuBogor.jpg
Liputan6.com, Jakarta: Aparat Kepolisian Daerah Banten menangkap Syaiful Anwar alias Hasan atau Eyang (bukan Syaifur Anwar seperti ditulis sebelumnya--Red), komisaris Yayasan Suhada Ampera Kemanusiaan (SAK), Sabtu (9/10). Laki-laki berusia 70 tahun yang ditangkap di tempat persembunyiannya di Kamar 301 Hotel Mirah, Bogor, Jawa Barat, ini diduga telah meraup miliaran rupiah [baca: Penipuan Berkedok Harta Karun Soekarno Terbongkar].

Tempat persembunyian Eyang diketahui setelah polisi menangkap salah seorang kepercayaan tersangka, Subur, di Jalan Persahabatan Timur, Rawamangun, Jakarta Timur. Saat ditangkap, Eyang ditemani sekretaris pribadinya. Sedangkan staf bernama Warto ditangkap di kamar lain.

Penipuan yang dilakukan Eyang dan Yayasan SAK adalah dengan menggunakan model penjualan berjenjang atau multi level marketing. Produk yang ditawarkan adalah harta karun Bung Karno. Untuk memperolehnya seseorang menyetorkan sejumlah uang sebesar Rp 10 juta. Sebagai jaminan Eyang dan yayasan mengeluarkan surat deposito. Tetapi belakangan diketahui, korban tak mendapatkan harta karun dan surat deposito yang diberikan Eyang ternyata palsu.

Polisi yang tengah mengusut kasus ini meyakini, pelakunya tidak sedikit. Sebab, dari barang bukti yang ditemukan, Eyang juga ternyata menyimpan sejumlah uang dolar dan batangan emas palsu. Namun, tersangka menyangkal telah mencetak uang palsu.

Setelah menangkap pengurus Yayasan SAK, polisi menemukan barang bukti lain termasuk surat wasiat dan tanda tangan palsu Bung Karno. Diyakini, surat inilah yang memungkinkan korban tertipu dan menyerahkan uang Rp 10 juta. Barang bukti itu ditemukan di rumah Warto di Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Dalam surat wasiat palsu itu berisi pernyataan Bung Karno atas kepemilikan kekayaan yang telah disimpan secara rahasia dan hanya orang-orang terdekatnya yang mengetahui.

Saat penggeledahan, Warto mengaku tidak menyimpan uang dolar palsu. Bahkan ia mengaku sebagai korban penipuan. Namun, Budi, menantu Eyang dan juga staf yayasan, menuding Warto telah membawa barang bukti yang dicari polisi. Saat Budi dan Warto dipertemukan ketegangan sempat terjadi. Keduanya saling menuduh membawa pergi uang palsu. Para tersangka kemudian dibawa ke Polda Banten untuk diperiksa lebih lanjut.(YYT/Hardjanto Pramundito dan Dwi Firmansyah)