by

Yang Terlupakan dari Tragedi Mei 1998

  • Berita
  • 0
  • 14 Mei 2003 19:23
Liputan6.com, Jakarta: Cerita duka tentang Kerusuhan 13-14 Mei 1998. Di kala Jakarta membara dan asap mengepul dari gedung-gedung di Ibu Kota. Penjarahan, perkosaan, serta mayat yang terpanggang di dalam gedung yang terbakar. Bagi Maria Cornelia Kuriyati Sanu, peristiwa tersebut tak akan terlupakan. Stefanus, putranya yang masih pelajar kelas II Sekolah Menengah Pertama PGRI 44 Malaka Jaya, Klender, Jakarta Timur, tewas terpanggang menyusul terbakarnya Yogya Departemen Store, Kamis, 13 Mei 1998. Yang lebih menyedihkan lagi, menurut Cornelia, putranya dicap sebagai penjarah. "Anak kita bukan penjarah. Yang menjarah, membakar gedung malah sampai sekarang malah bebas," ujar Cornelia, sambil terisak saat ditemui SCTV, baru-baru ini.

Janda sepuluh anak ini menuturkan, sewaktu peristiwa yang menewaskan banyak orang itu terjadi, sebenarnya putranya tengah menonton televisi bersama anggota keluarga yang lain. Namun, entah mengapa, saat seorang kakaknya menyuruh Stefanus mencuci baju, remaja belasan tahun itu malah ngeloyor pergi. Padahal, suasana saat itu mencekam. Penjarahan dan pembakaran tengah berlangsung [baca: Reformasi dan Ratusan Penjarah Hangus Terpanggang].

Perasaan khawatir mulai meliputi Cornelia manakala Stefanus tak kunjung pulang, meski hari sudah beranjak malam. Namun begitu, saat itu, dirinya masih berusaha menenangkan diri dengan menduga-duga bahwa sang buah hati tak pulang karena menginap di rumah teman. Bahkan, ketika keesokan harinya Stefanus tak pulang pun, Cornelia masih berusaha santai.

Nah, memasuki Sabtu, mulailah Cornelia dihinggapi perasaan khawatir yang sangat. Apalagi, sanak saudaranya mulai menelepon rumahnya menanyakan keberadaan Stefanus. "Keluarga nelepon, nanya anak-anak gimana? Saya bilang anak-anak ada. Cuma Stefanus yang nggak ada. Mereka curiga Stefanus terbakar," kata Cornelia. Saat itu, di luar, sudah banyak tetangga Cornelia yang berteriak lantaran anggota keluarganya terbakar di Yogya Departemen Store, Klender.

Untuk mencari Stefanus, Cornelia mengaku bersama keluarganya mendatangi kepolisian setempat dan kamar jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat. Namun, saat itu, Cornelia tak bisa menemukan Stefanus lantaran mayat-mayat yang ada sudah membusuk. "Belum sepuluh dibuka, udah nggak tahan baunya. Hitam gosong. Terus pulang ke rumah. Warga sekitar lingkungan bilang, kita harus berserah, menerima yang terjadi," kata Cornelia lagi.

Akhirnya, Cornelia mulai bisa menerima kenyataan bahwa sang anak menjadi korban di Yogya Departemen Store setelah beberapa hari kemudian Stefanus tak kunjung pulang. Bahkan, Cornelia mengaku, ketika hari ke-100 hilangnya Stefanus, dirinya sudah betul-betul tegar menerima kenyataan. Dia mengaku, sampai sekarang bersama keluarga korban Kerusuhan Mei 1998 lainnya masih terus berjuang agar pembakar gedung pertokoan itu dihukum.

"Kita sudah berusaha ke Gus Dur, Wiranto. Sampai saat ini kalo ada pertemuan, kita doain yang terbakar itu biar tenang. Sebagai orang tua, apalagi ibu, saya betul-betul merasakan. Para keluarga korban berharap, kasus ini cepat selesai karena kami [keluarga korban] buta hukum juga dari keluarga yang tidak mampu," Cornelia menambahkan [baca: Lima Tahun Tragedi Mei Diperingati].

Cornelia memang tegar, paling tidak berusaha tegar. Kalaupun ketika ditemui, dia tak mampu menyembuyikan kesedihan, rasanya wajar saja mengingat Cornelia dan juga keluarga korban Kerusuhan Mei 1998 yang lain hanyalah segelintir kaum yang kehilangan. Menangis pun rasanya sah-sah saja bila memang dianggap penyelesaian untuk kasus yang hingga kini belum terselesaikan. Mereka cuma bisa berdoa arwah sanak keluarganya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.(SID/Aryo Adi Prabowo dan Donny Indradi)
Comments
Sign in to post a comment