Bea Cukai Tangkap Kapal Bermuatan Bahan Peledak
Carlos Pardede
21/11/2009 00:24 | Penyelundupan
Liputan6.com, Tanjung Balai Karimun: Kantor Wilayah (Kanwil) Khusus Bea dan Cukai Kepulauan Riau, Jumat (20/11) siang, menyita 75 ton bahan peledak yang dibawa kapal Fungka Sejahtera asal Sulawesi Selatan. Kapal saat itu berlayar dari Malaysia menuju Selayar, Sulsel.
Modus operandi para penyelundup adalah mengelabui petugas dengan melapis pembungkus bahan peledak dengan karung bertulisan pupuk. Padahal, isinya merupakan amonium nitrat yang dibungkus per 25 kilogram. Kantor Kepala Wilayah Bea Cukai Kepulauan Riau Nasar Salim menyatakan, intelijen Bea Cukai sudah membuntuti kapal tersebut sejak berlayar di sekitar perairan Johor, Malaysia.
Namun, nakhoda kapal membelokkan arah kapal mengikuti garis pantai Malaysia ke arah utara. Selanjutnya memutar di Laut Cina Selatan. Saat menuju arah selatan itulah, kapal patroli Bea Cukai memberhentikan dan memeriksa kapal. Sempat ada perlawanan dari 18 anak buah kapal (ABK), tapi gagal. Mereka ditahan pada 18 November dini hari dan selanjutnya dibawa menuju Dermaga Bea Cukai Tanjung Balai Karimun.
Meskipun ke-18 ABK mengakui mengambil bahan berbahaya itu dari Pasir Gudang, Johor, seluruh paspor mereka tak memiliki cap imigrasi setempat. Itu dilakukan untuk menghilangkan jejak. Nakhoda Kapal Fungka Sejahtera, Nurdin Hasan, mengakui baru satu kali beraksi. Pria asal Selayar itu hanya mengetahui bahan yang dibawa berupa pupuk untuk dibawa dan dijual di Sulsel dan sekitarnya.
Menurut Kepala Kanwil Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Nasar Salim, setelah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau dan TNI Angkatan Laut, 75 ton bahan amonium nitrat itu memang bahan peledak yang berbahaya. Saat ini sedang diselidiki mengenai tujuan penggunaan bahan peledak itu.
Tangkapan ini adalah hasil terbesar yang didapat Bea Cukai Tanjung Balai Karimun sepanjang sejarahnya. Dikhawatirkan, bahan peledak ini bisa digunakan untuk aksi terorisme.(AIS/ANS)
Modus operandi para penyelundup adalah mengelabui petugas dengan melapis pembungkus bahan peledak dengan karung bertulisan pupuk. Padahal, isinya merupakan amonium nitrat yang dibungkus per 25 kilogram. Kantor Kepala Wilayah Bea Cukai Kepulauan Riau Nasar Salim menyatakan, intelijen Bea Cukai sudah membuntuti kapal tersebut sejak berlayar di sekitar perairan Johor, Malaysia.
Namun, nakhoda kapal membelokkan arah kapal mengikuti garis pantai Malaysia ke arah utara. Selanjutnya memutar di Laut Cina Selatan. Saat menuju arah selatan itulah, kapal patroli Bea Cukai memberhentikan dan memeriksa kapal. Sempat ada perlawanan dari 18 anak buah kapal (ABK), tapi gagal. Mereka ditahan pada 18 November dini hari dan selanjutnya dibawa menuju Dermaga Bea Cukai Tanjung Balai Karimun.
Meskipun ke-18 ABK mengakui mengambil bahan berbahaya itu dari Pasir Gudang, Johor, seluruh paspor mereka tak memiliki cap imigrasi setempat. Itu dilakukan untuk menghilangkan jejak. Nakhoda Kapal Fungka Sejahtera, Nurdin Hasan, mengakui baru satu kali beraksi. Pria asal Selayar itu hanya mengetahui bahan yang dibawa berupa pupuk untuk dibawa dan dijual di Sulsel dan sekitarnya.
Menurut Kepala Kanwil Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, Nasar Salim, setelah berkoordinasi dengan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau dan TNI Angkatan Laut, 75 ton bahan amonium nitrat itu memang bahan peledak yang berbahaya. Saat ini sedang diselidiki mengenai tujuan penggunaan bahan peledak itu.
Tangkapan ini adalah hasil terbesar yang didapat Bea Cukai Tanjung Balai Karimun sepanjang sejarahnya. Dikhawatirkan, bahan peledak ini bisa digunakan untuk aksi terorisme.(AIS/ANS)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Sent from Indosat Blackberry powered by Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
