Tragedi Depo Plumpang Pertamina
Kebakaran tangki bahan bakar di Depo Pertamina, Plumpang.
25/01/2009 12:12 | Buser File
Liputan6.com, Jakarta: Ahad, 18 Januari 2008. Malam itu nyala api yang membubung tinggi terlihat di wilayah Jakarta Utara. Depo Pertamina yang berlokasi di kawasan Plumpang, terbakar hebat. Api yang keluar dari salah satu tangki penampung bahan bakar minyak, penyuplai kebutuhan bahan bakar di Jakarta dan wilayah sekitarnya atau Jabodetabek, dengan cepat membesar.
Warga di sekitar depo mulai panik. Kepanikan semakin bertambah saat terdengar bunyi sejumlah ledakan dari arah depo. Tak lagi berpikir panjang, warga berhamburan menyelamatkan diri, sembari mencoba membawa harta benda mereka. Sebagian di antara mereka terpaksa dievakuasi karena kondisi fisik yang renta. Di tengah kekalutan menyelamatkan diri, ada warga yang kehilangan anggota keluarganya. Takut, bingung, dan sedih. Perasaan campur aduk itu menghinggapi warga sekitar depo. Mereka pun tak tahu harus berbuat apa [baca: Depo Pertamina Plumpang Terbakar].
Para petugas dari puluhan mobil pemadam kebakaran yang diturunkan bekerja ekstra keras menjinakkan si jago merah. Petugas berupaya mati-matian mencegah menjalarnya api hingga ke permukiman warga atau tangki lain yang letaknya berdekatan. Tak tanggung-tanggung, mereka juga membantu evakuasi dan penyelamatan warga. Situasi genting ini juga segera direspons aparat dari berbagai kesatuan. Ini mengingat api yang tengah melalap tangki di Depo Plumpang bisa sangat membahayakan. Bahkan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Bambang Hendarso Danuri sampai turun sendiri mengecek kondisi kebakaran di Depo Plumpang.
Ini lantaran Depo Plumpang merupakan depo terbesar yang dimiliki Pertamina dan termasuk objek vital nasional. Dari sanalah stok BBM di seluruh Jakarta dan wilayah sekitarnya dipasok. Ada kekhawatiran jika kebakaran berlanjut akan mengganggu pasokan bensin di Jabodetabek. Yang mencemaskan, tak ada tanda-tanda api padam meski petugas sudah menggunakan bahan kimia khusus untuk menanggulanginya. Warga pasrah.
Lalu lintas di sekitar lokasi dan di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, pun macet total. Api masih berkobar, insiden ini benar-benar menyita perhatian pemerintah. Apalagi, ada sejumlah spekulasi mengenai kebakaran ini. Dan hingga dini hari, petugas pemadam kebakaran tak juga bisa menguasai api. Petugas hanya melakukan pendinginan supaya api tak menyebar ke mana-mana. Warga pun akhirnya mengungsi untuk menghindari amukan api Salah satunya di pintu Jalan Tol Wiyoto Wiyono, Plumpang, beserta sedikit benda yang masih dapat diselamatkan.
Pagi hari petugas baru bisa menjinakkan api di tangki nomor 24 yang berkapasitas 10 ribu kiloliter premium. Akibat kebakaran, tangki nomor 24 hampir rata dengan tanah. Diperkirakan, Pertamina mengalami kerugian miliaran rupiah. Soalnya, tangki yang terbakar berisi sekitar 1.300 kiloliter premium, belum termasuk infrastruktur yang ludes terbakar.
Atas terjadinya musibah itu, Pertamina mengklaim sistem keamanan Depo Plumpang berjalan dengan baik. Sementara, usai kebakaran di Depo Plumpang, pemerintah menjamin tidak ada kelangkaan pasokan BBM. Toh, insiden kebakaran di Depo Plumpang itu ternyata sempat berdampak bagi ketersediaan bensin di Ibu Kota.
Di Jakarta Timur, stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU di Jalan Dewi Sartika dan Otto Iskandar Dinata tutup sejak sore karena kehabisan persediaan premium. Di Jakarta Selatan, pom bensin di kawasan Gandaria, kehabisan stok. Sedangkan di daerah Galur, Jakarta Pusat, SPBU telah tutup sejak Senin pagi akibat pasokan premium yang tak kunjung datang.
Pun demikian di Depok, Jawa Barat. Sejak pagi hari, SPBU di Jalan Tole Iskandar, Depok, tutup. Sebab pasokan premium dan solar belum tiba. Petugas SPBU mengaku telah memesan BBM ke Depo Plumpang. Namun, pasokan yang harusnya dikirim kemarin belum juga datang. Pemerintah pun angkat bicara untuk mengatasi tersendatnya pasokan BBM tersebut.
Sementara investigasi mengenai penyebab kebakaran terus digelar. Setelah api padam, petugas menyisir lokasi kejadian dan mendapati jasad sekitar 25 meter dari tangki nomor 24. Jasad itu diduga adalah Zaenuddin, seorang petugas keamanan. Untuk mengungkap penyebab kematian korban dan terkait tidaknya dengan kebakaran, jenazah dikirim ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk diotopsi.
Dari hasil penyelidikan di lapangan, polisi menarik kesimpulan sementara bahwa kebakaran Depo Plumpang disebabkan faktor teknis dan kesalahan manusia. Polisi sekaligus membantah spekulasi adanya kesengajaan atas terjadinya kebakaran dengan ditemukannya barang bukti berupa telepon genggam. Namun pendapat yang berbeda dilontarkan pakar perminyakan Rudi Rubiandini. "Masih banyak kemungkinan sebagai pemicu [kebakaran]," ucap Rudi. Dan hingga kini teka-teki terbakarnya Depo Plumpang masih terus diselidiki polisi.(ANS/Tim Buser File)
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
