Tragedi Pencarian Uang Gaib

on Jul 29, 2007 at 13:40 WIB

Liputan6.com, Lebak: Sepekan terakhir warga Kampung Cikareo, Kecamatan Cileles, Lebak, Banten, mungkin tak nyenyak lagi tidurnya. Sebuah tragedi yang merenggut nyawa beberapa orang telah terjadi di kampung mereka. Para korban itu ditemukan di beberapa sumur.

Lima hari silam, penduduk Kampung Cikareo senantiasa mengikuti dan membantu kegiatan polisi yang terus mencari korban di sebuah kebun di pojok desa. Korban yang semuanya didapati dalam lubang sumur besar jumlahnya terus bertambah. Pada malam hari telah ditemukan dan dievakuasi tiga korban. Dan siang hari bertambah lima lagi di lubang sumur yang berbeda [baca: Delapan Mayat Ditemukan Dalam Sumur di Lebak].

Polisi mencari para korban itu dalam upaya menguak tabir kejahatan yang diduga diperbuat seorang warga di desa tersebut. Menurut Kepala Kepolisian Resor Lebak Ajun Komisaris Besar Polisi Dwi Gunawan, orang itu telah ditahan polisi. Adapun warga begitu mengenal orang yang sekarang telah ditetapkan polisi sebagai tersangka dalam peristiwa pembunuhan tersebut. Bahkan, Usep sang tersangka dikenal beberapa warga sebagai seorang dukun.

Dari delapan korban yang berhasil dievakuasi polisi, tiga di antara sudah diketahui identitasnya. Mereka adalah Anto, Sanali dan Nasrun. Ketiganya warga Pasar Kemis, Tangerang, Banten. Sedangkan lima jenazah belum dapat dikenali [baca: Lima Korban Dukun Palsu Diidentifikasi Hari Ini].

Yang terang, polisi hanya mengantongi nama dari informasi tersangka. Korban itu adalah Olon, Yudi, Solihin dan Dahlan, juga warga Pasar Kemis, Tangerang. Dan seorang lagi bernama ini Jam Jami, penduduk Kampung Gajah Mada, Desa Palayar, Kecamatan Cipecang, Pandeglang, Banten.

Meski tak masuk akal, tetap saja ada orang yang mempercayai Usep dapat menggandakan uang. Apa yang sebenarnya membuat kedelapan korban Tubagus Yusuf Maulana alias Usep akhirnya justru tewas di dalam sebuah sumur?

Dalam pemeriksaan tersangka Usep menuturkan seluruh korban yang ditemukan polisi dalam lubang-lubang sumur besar itu adalah orang-orang yang meminta pada dirinya untuk menggandakan uang dengan ritual tertentu. Uang tak tergandakan, Usep kemudian menghadapi persoalan baru. Sang pasien meminta kembali uangnya. Padahal, duit tersebut telah habis untuk biaya ritual. Usep pun kalut.

Dan tindakan yang diambil Usep adalah meracuni semua pasiennya dengan bubuk potasium. Ternyata, Usep tak mau bertanggung jawab sendiri. Ia menyeret Oyon terlibat dalam aksi itu. Menurut Usep, tugas Oyon dari mencari korban yang percaya Usep bisa menggandakan uang secara gaib hingga mengubur jenazah korban ke dalam lubang-lubang sumur besar itu. Akan tetapi, tudingan tersebut dibantah Oyon yang kini juga ditetapkan sebagai tersangka.

Selain menetapkan Usep dan Oyon sebagai tersangka dalam kasus ini, polisi juga memeriksa empat orang lainnya yang diduga terlibat. Kendati begitu, keempatnya ditetapkan hanya sebagai saksi lantaran tak terbukti terlibat dalam aksi kejahatan yang dituduhkan pada Usep dan Oyon.

Terungkapnya peristiwa ini berawal dari laporan Dewi, istri Anto yang menjadi salah satu korban. Warga Pasar Kemis, Tangerang, itu sangat khawatir lantaran suaminya tak kunjung pulang, bahkan tiada kabar setelah berpamitan hendak ke rumah Usep. Ketika mendatangi kediaman Usep, ia hanya mendapat jawaban dari Usep bahwa Anto telah pulang dengan membawa uang tiga karung besar. Dewi pun menaruh curiga, sebab mobil Anto terparkir di sekitar rumah Usep. Dewi kemudian melapor pada polisi hingga akhirnya Usep diringkus.

Kasus pembunuhan di Lebak, Banten, itu memang patut menjadi pelajaran bahwasanya berpikir irasional bisa menjebak seseorang masuk dalam perangkap kejahatan. Dan berpikir jernih bakal membentengi dari sebuah aksi kerakusan duniawi.(ANS/Tim Tabir Kejahatan)

Suka artikel ini?

0 Comments