Tragedi Demam Smack Down

  • Berita
  • 0
  • 03 Des 2006 12:58

031206btabir.jpg
Liputan6.com, Jakarta: Pada era modern seperti sekarang, peran media cetak maupun elektronik memang sangat berpengaruh bagi kehidupan masyarakat luas. Namun, bagaimana jadinya bila pengaruh itu justru berakibat fatal bahkan berujung kematian? Nah, fenomena inilah yang menjadi sorotan berbagai pihak di Tanah Air dalam dua pekan terakhir. Ini setelah sejumlah anak yang notabene generasi penerus menjadi korban akibat tayangan kekerasan yang ditampilkan televisi.

Padahal dunia bocah adalah penuh keceriaan. Bersekolah, bermain, dan bergembira bersama teman-teman itulah kebiasaan yang wajar saja dilakukan anak-anak. Sebagian besar bocah bersenda gurau sembari bermain. Sekilas tak ada yang ganjil dengan kegiatan yang tengah mereka lakukan. Semua terlihat wajar. Begitulah suasana sejumlah sekolah dasar yang dikunjungi Tim Tabir Kejahatan SCTV, belum lama ini.

Namun tunggu dulu? Permainan itu sebenarnya cukup mengundang bahaya dan tak patut dilakukan anak-anak seusia mereka. Betapa tidak, murid-murid sekolah dasar ini saling menyakiti satu sama lain. Memukul, menendang, dan membanting. Mereka menirukan adegan gulat yang biasa ditayangkan di salah satu televisi swasta bertajuk Smack Down.

Boleh dibilang, kini, acara Smack Down populer di Indonesia. Terutama di kalangan anak-anak. Cukup ganjil memang. Ini mengingat acara yang mempertunjukkan adu otot dan kekerasan asal Amerika Serikat ini seharusnya hanya menjadi konsumsi orang dewasa.

Tak terbayangkan memang, anak-anak justru tersihir dengan akting para pegulat palsu. Sebut saja The Rock, John Cena, Hulk Hogan, dan Undertaker. Para artis gulat hiburan itu mempertontonkan berbagai gaya gulat yang sarat dengan kekerasan. Akibatnya pun mudah ditebak. Anak-anak bahkan fasih memperagakan adegan kekerasan jagoan-jagoan mereka. Ironisnya mereka tak tahu risikonya. "Takut sih, tapi kalau mainnya nggak terlalu bahaya. Sering nonton," ucap seorang pelajar SD dengan polosnya baca: Ketika <i>Smack Down</i> Menjadi Kiblat meneliti ulang tayangan tersebut. Atas desakan berbagai pihak, tayangan gulat hiburan itu akhirnya dihentikan oleh stasiun televisi bersangkutan. Namun tampaknya hal itu tidak juga menyurutkan demam Smack Down yang kini tengah melanda anak-anak di Tanah Air.

Selain dapat ditonton di salah satu televisi swasta setiap malam, saat anak-anak masih terjaga, tayangan Smack Down ternyata sangat mudah disaksikan melalui media lain. Antara lain keping cakram padat baik VCD maupun DVD. Dan rekaman tayangan dalam format cakram padat itu ternyata mudah dibeli. Satu di antaranya di pusat perbelanjaan elektronik terbesar di kawasan Kota, Jakarta Pusat.

Proses cuci otak terhadap bocah tak berhenti sampai di situ. Ada yang lebih dashyat lagi. Mereka bahkan juga bisa secara langsung memainkan karakter jagoan Smack Down mereka melalui game PlayStation di rumah maupun di tempat penyewaan. Dan tanpa anak-anak itu sadari, lambat laun kekerasan merasuki jiwa dan raga mereka dengan bermain PlayStation. Dari tayangan televisi dan game itu mereka mulai saling menirukan berbagai atraksi Smack Down tanpa menyadari bahaya dan juga maut yang mungkin mengintai baca: Penggila <i>Smack Down</i> Memenuhi Rental PlayStation akhirnya menumbuhkan kekerasan-kekerasan baru pada generasi penerus kita," kata bekas pegulat Smack Down itu. Adegan yang dilakukan memang berdasarkan skenario, tapi tingkat kekerasan yang dialami benar-benar alami. "Untuk anak-anak, pesan saya lebih baik melakukan hal-hal positif," imbuh dia.

Menanggapi fenomena itu, KPI akhirnya mengambil tindakan. Atas berbagai pertimbangan dan desakan dari berbagai pihak, KPI meminta tayangan Smack Down dihentikan baca: KPI: Tayangan Smack Down Harus Dihentikan

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment